Photobucket

Rabu, 24 September 2008

NABI ISA as AKAN SEGERA TURUN

Sebuah Tinjauan Nubuwah tentang Turunnya Isa as di Akhir Zaman

Kajian tentang kemunculan Al-Mahdi dan keluarnya Dajjal selalu beriringan dengan pembahasan turunnya Nabi Isa as. Kedatangan Isa yang akan memberikan dukungan terhadap Al Mahdi dan Thaifah Manshurah yang bersamanya, lalu memerangi Dajjal dan membunuhnya merupakan bagian dari keimanan seorang muslim terhadap tanda-tanda kiamat kubra. Turunnya Nabi Isa di akhir zaman adalah masalah akidah yang telah tetap berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah yang mencapai derajat mutawatir.

Dalil-dalil dari Al-Qur’an
Pertama, firman Allah Ta’ala: Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Az Zukhruf [43]: 57-61).

Konteks ayat-ayat ini bercerita tentang kisah Nabi Isa. Pada akhir rangkaian ayat-ayat tersebut, Allah berfirman وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Maknanya adalah, turunnya Nabi Isa sebelum terjadinya kiamat kelak merupakan pertanda bahwa terjadinya kiamat sudah sangat dekat. Makna ini dikuatkan oleh qira’ah Ibnu Abbas, Mujahid dan sejumlah ulama tafsir lainnya yang membaca ayat ini dengan memfathahkan huruf ‘ain dan lam pada lafal la-‘ilmun sehingga menjadi وَإِنَّهُ لَعَلَمٌ لِلسَّاعَةِ, yang maknanya adalah ‘Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar merupakan salah satu tanda (dekatnya) hari kiamat’.[1]

Kedua, firman Allah Ta’ala: “Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan ada­lah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” “Tidak ada seorang pun dari ahli kitab kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan pada hari kiamat nanti Isa akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An-Nisa’ [4]: 157-159).

Ayat-ayat dalam surat An-Nisa’ di atas menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi tidak mampu membunuh Nabi Isa, tidak pula mampu menyalibnya, karena Nabi Isa telah diangkat oleh Allah Ta’ala ke langit lengkap dengan jasad dan ruhnya. Nabi Isa tidak dibunuh dan tidak disalib, tetapi ada orang yang diserupakan dengan Isa di mata mereka, dan orang itulah yang mereka salib sebagaimana firman Allah Ta’ala: Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya.

Makna lafazh di dalam firman Allah بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ mengandung arti bahwa Allah telah mengangkat Isa lengkap dengan jasad dan ruhnya, sehingga dengan demikian tercapai bantahan terhadap pengakuan orang-orang Yahudi bahwa mereka telah membunuh dan menyalibnya, karena pembunuhan dan penyaliban itu hanya terjadi pada jasad saja. Dalam hal ini, pengangkatan ruhnya saja tidak cukup untuk membantah pengakuan mereka itu. Karena yang disebut oleh Isa itu mencakup badan dan ruh, sehingga tidak cukup dengan hanya menyebut salah satu dari kedua unsur itu, kecuali ada bukti yang membenarkan, sedangkan di sini tidak ada bukti seperti itu. Lagi pula, pengangkatan ruh dan jasadnya secara keseluruhan itu sesuai dengan keperkasaan Allah Yang Maha Sempurna, dan sesuai dengan hikmah, kemuliaan dan pertolongan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang dikehendaki-Nya.

Dalil-Dalil dari As-Sunnah
Terdapat banyak hadits shahih yang menjelaskan bahwa Nabi Isa belum wafat. Isa diangkat oleh Allah ke langit —sebagaimana dijelaskan oleh ayat-ayat di atas— dan kelak di akhir zaman akan turun kembali ke dunia untuk memerangi Dajjal, menegakkan keadilan Islam, dan akhirnya wafat dan dikebumikan di bumi layaknya manusia yang lain. Di antara hadits-hadits tersebut adalah,

Dalil-Dalil dari As-Sunnah

Terdapat banyak hadits shahih yang menjelaskan bahwa Nabi Isa belum wafat. Isa diangkat oleh Allah ke langit —sebagaimana dijelaskan oleh ayat-ayat di atas— dan kelak di akhir zaman akan turun kembali ke dunia untuk memerangi Dajjal, menegakkan keadilan Islam, dan akhirnya wafat dan dikebumikan di bumi layaknya manusia yang lain. Di antara hadits-hadits tersebut adalah,

1. Rasulullah bersabda: “Tidak akan terjadi kiamat sehingga turun kepada kalian Ibnu Maryam sebagai hakim yang adil, ia mematahkan salib, membunuh babi, menghentikan jizyah dan melimpahkan harta sehingga tidak ada seorang pun yang mau menerima pemberian harta.”[2]

2. Rasulullah bersabda: “Bagaimana keadaan kalian apabila Ibnu Maryam turun di antara kalian sedangkan yang menjadi imam (pemimpin) kalian berasal dari kalangan kalian sendiri?”[3]

3. Dari Jabir bin Abdullah ia berkata: Saya mendengar Nabi bersabda: “Akan senantiasa ada di antara umatku satu kelompok yang berperang di atas kebenaran, mereka senantiasa menang hingga hari kiamat.” Beliau bersabda: “Lantas Isa ibnu Maryam turun, maka pemimpin kelompok tersebut berkata, ‘Kemarilah, shalatlah sebagai imam kami!’ Maka Isa menjawab, “Tidak, sebagian kalian memimpin sebagian yang lain sebagai penghormatan Allah terhadap umat ini.”[4]

Bagaimana dan kapan Nabi Isa turun ke Bumi ?

Setelah Dajjal muncul dan melakukan perusakan dan penghancuran di muka bumi, Allah mengutus Isa ‘alaihissalam untuk turun ke bumi turun di menara putih di timur Damsyiq, Siria. Beliau mengenakan dua buah pakaian yang dicelup dengan waras dan za’faran; beliau taruh kedua telapak tangan beliau di sayap dua orang Malaikat. Bila beliau menundukkan kepala, meneteslah / menurunlah rambutnya, dan bila diangkat kelihatan landai seperti mutiara. Dan tidak ada orang kafir yang mencium nafasnya kecuali akan mati, dan nafasnya itu sejauh pandangan matanya.

Beliau akan turun pada kelompok yang diberi pertolongan oleh Allah yang berperang untuk menegakkan kebenaran dan bersatu-padu menghadapi Dajjal. Nabi Isa as. turun pada waktu sedang diiqamati shalat, lantas beliau shalat di belakang pemimpin kelompok itu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Ketika Allah telah mengutus al-Masih Ibnu Maryam, maka turunlah ia di menara putih di sebelah timur Damsyiq dengan mengenakan dua buah pakaian yang dicelup dengan waras dan za’faran, dan kedua telapak tangannya diletakkannya di sayap dua Malaikat; bila ia menundukkan kepala maka menurunlah rambutnya, dan jika diangkatnya kelihatan landai seperti mutiara. Maka tidak ada orang kafirpun yang mencium nafasnya kecualipasti meninggal dunia, padahal nafasnya itu sejauh mata memandang. Lain Isa mencari Dajjal hingga menjumpainya dipintu Lud, lantas dibunuhnya Dajjal. Kemudian Isa datang kepada suatu kaum yang telah dilindungi oleh Allah dari Dajjal, lalu Isa mengusap wajah mereka dan memberi tahu mereka tentang derajat mereka di surga. “[5]

Ibnu Katsir berkata, “Inilah yang termasyhur mengenai tempat turunnya Isa, yaitu di menara putih bagian timur Damsyiq. Dan dalam beberapa kitab saya baca beliau turun di menara putih sebelah timur masjid Jami’ Damsyiq, dan ini rupanya pendapat yang lebih terpelihara. Karena di Damsyiq tidak dikenal ada menara di bagian timur selain di sebelah Masjid Jami’ Umawi di Damsyiq sebelah timur. Inilah pendapat yang lebih sesuai karena beliau turun ketika sedang dibacakan iqamat untuk shalat, lalu imam kaum Muslimin berkata kepada beliau, “Wahai Ruh Allah, majulah untuk mengimami shalat.” Kemudian beliau menjawab, “Anda saja yang maju menjadi imam, karena iqamat tadi dibacakan untuk Anda.” Dan dalam satu riwayat dikatakan bahwa Isa berkata, “Sebagian Anda merupakan amir (pemimpin) bagi sebagian yang lain, sebagai penghormatan dari Allah untuk umat ini.” [6]

Tersebarnya Keamanan dan Barakah pada Zaman Isa ‘Alaihis-salam

Betapa menyenangkan seandainya kita termasuk yang mendapatkan karunia untuk tinggal semasa dengan nabi Isa as. Karena di masa beliau kehidupan manusia benar benar aman dan damai, bahkan kedamaian itu bukan hanya milik manusia, tetapi juga merata hingga kepada binatang. Zaman Isa ‘alaihissalam (setelah turun kembali ke bumi) ini merupakan zaman yang penuh keamanan, kesejahteraan, dan kemakmuran serta kelapangan. Allah menurunkan hujan yang lebat, bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan serta banyak barakahnya, harta melimpah ruah; dendam, dengki, dan kebencian hilang sirna.

Dalam hadits Nawwas bin Sam’an yang panjang yang membicarakan tentang Dajjal, turunnya Isa, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj pada zaman Isa ‘alaihissalam, dan do’a Isa agar mereka dihancurkan, Rasulullah saw bersabda:

“… Kemudian Allah menurunkan hujan, dan tak ada rumah tanah liat maupun bulu yang dapat menahan airnya, lantas mencuci bumi hingga bersih seperti cermin kaca. Kemudian diperintahkan kepada kami: ‘Tumbuhkanlah buah-buahanmu dan kembalikanlah barakahmu.’ Maka pada hari itu sejumlah orang dapat memakan buah delima dan bernaung di bawahnya. Dan susupun diberi barakah, sehingga susu seekor unta bunting yang sudah dekat melahirkan dapat mencukupi banyak orang, susu seekor sapi mencukupi untuk orang satu kabilah, dan susu seekor kambing mencukupi untuk satu keluarga….” [7]

Rasulullah saw bersabda :

Demi Allah, sesungguhnya Isa putra Maryam akan turun ke bumi sebagai hakim yang adil, akan membebaskan jizyah, unta-unta muda akan dibiarkan hingga tidak ada yang mau mengurusinya lagi, sifat bakhil, saling membenci, dan saling dengki akan hilang, dan orang-orang akan memanggil-manggil orang lain yang mau menerima hartanya (shadaqahnya), tetapi tidak ada seorangpun yang mau menerimanya.[8]

Imam Nawawi berkata, “Maknanya, bahwa pada saat itu orang-orang sudah tidak tertarik lagi untuk memelihara unta karena banyaknya harta kekayaan, keinginan sedikit, kebutuhan tidak ada, dan sudah tahu bahwa kiamat telah dekat. Dan disebutkannya lafal al-qilash (unta muda) dalam hadits ini karena unta muda itu merupakan harta yang paling baik bagi bangsa Arab (pada waktu itu).

Kiamat di Ambang Pintu

Masa tinggal Isa di bumi setelah turun dari langit menurut riwayat adalah se­lama tujuh tahun, dan menurut sebagian riwayat yang lain lagi selama empat puluh tahun. Setelah itu wafat pula Imam Mahdi dan Al Qahthani yang melanjutkan kepemimpinannya. Tidak lama setelah itu, terbitlah matahari dari barat dan binatang melata yang keluar dari perut bumi yang memberikan tanda kufur dan iman atas setiap manusia. Ketika itu setiap mukmin segera mengetahui bahwa itulah detik detik kemunculan angina lembut dari yaman yang akan mencabut nyawa setiap mukmin. Setelah itu, tidak seorangpun manusia yang masih memiliki keimanan kecuali akan menemui ajalnya. Ketika seluruh penduduk manusia tidak lagi menyebut Allah, itulah kondisi seburuk-buruk manusia, dan kepada merekalah kiamat akan terjadi. Wallahu a’lam bish shawab.

DETIK-DETIK WAFAT-NYA ROSULULLAH

Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun dan menerima wahyu yang pertama sewaktu beliau berada di gua Hira’. Sejak itu beliau mulai berdakwah memperkenalkan ajaran Islam kepada penduduk Mekkah. Selama 13 tahun berkecimpung dalam dakwah, mempertahankan, dan memperjuangkan syiar Allah di Mekkah tidak sedikit tantangan dan rintangan yang beliau hadapi. Beratnya tantangan yang dihadapi menyebabkan beliau hijrah ke Madinah dan di sana beliau diterima dengan tangan terbuka. Beliau berdakwah di Madinah kurang lebih selama 10 tahun, sehingga akhirnya Islam menjadi agama yang sempurna dan diterima luas oleh masyarakat.

Masa SakitAkhirnya pada tahun 11 Hijrah, pada awal bulan Rabi’ul Awwal Rasulullah mulai sakit-sakitan. Meskipun dalam kondisi sakit beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah dengan para sahabat di masjid. Ini yang perlu kita garis bawahi. Dalam kondisi sakit pun Rasulullah tetap melakukan shalat berjamaah di masjid. Hal ini sangat berbeda dengan yang kita lakukan sekarang. Jangankan dalam kondisi sakit, ketika sehat pun kita sangat jarang berhubungan dengan masjid.

Sebenarnya Nabi telah memberikan isyarat kepada para sahabat bahwa sakitnya tersebut adalah sakit yang akan membawanya kapada kematian. Namun, para sahabat tidak menyadarinya kecuali Abu Bakar r.a.. Suatu hari setelah shalat berjamaah beliau naik ke mimbar untuk menyampaikan sesuatu. Setelah memuji Allah dan berselawat kepada diri dan keluarganya, beliau berkata:

Innallaha khayyara ‘abdan baina ad-dunya wabaina ma ‘indahu. Fa ikhtara zalika al-’abdu ma ‘indallahi…. “Sesungguhnya Allah telah memberikan pilihan kepada seorang hamba untuk memilih antara kehidupan dunia dan apa yang ada di sisi-Nya di kehidupan akhirat. Hamba tersebut memillih apa yang ada di sisi Allah di kehidupan akhirat.”

Tidak satupun dari sahabat yang hadir mengerti bahasa yang disampaikan Nabi tersebut. Hanya Abu Bakar yang menangis tersedu-sedu karena hati dan perasaan beliau yang begitu dekat dengan Nabi. Hatinya berkata bahwa Nabi akan segera berpulang menghadap sang Khalik. Abu Bakar tahu bahwa hamba yang dimaksud adalah Nabi sendiri dan hari-hari beliau yang tersisa tinggal sedikit. Beberapa hari kemudian sakit Nabi bertambah parah dan beliau tidak sanggup lagi bangun dari tempat tidur. Nabi lalu meminta Abu Bakar untuk menjadi imam menggantikannya. Lihatlah betapa dalam kondisi sakit parah sekalipun Rasulullah tetap memikirkan umatnya.

Masa-masa Kritis

Di tengah masa-masa kritisnya, Nabi meminta izin kepada isteri-isterinya untuk tinggal di tempat Aisyah, seorang isteri yang paling disayangi di antara beberapa isteri beliau. Beliau dirawat oleh Aisyah dan Fatimah putri kesayangannya. Fatimah adalah satu-satunya anak Nabi yang masih hidup pada waktu itu. Selama sakit, setiap hari Fatimah menjenguk ayahnya dan biasanya tiap kali ia memasuki kamar Nabi, beliau selalu berdiri menyambutnya dan mengajaknya duduk di sampingnya. Begitu besar cintanya kepada Fatimah. Di sini ada satu lagi pelajaran. Seorang Nabi berdiri menyambut kedatangan anaknya, bukan seperti kita yang tidak bergerak menunggu anak datang mencium tangan kita. Rasulullah tidak demikian, dia berdiri dan menghampiri anaknya yang datang

Namun pada hari wafatnya Nabi tidak sanggup lagi untuk bangun menyambutnya. Akhirnya, Fatimah pun duduk di samping beliau. Nabi kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Fatimah menangis, sesaat kemudian Nabi berkata-kata lagi dan kali ini Fatimah tersenyum. Di kemudian hari setelah Nabi wafat Fatimah ditanya tentang apa yang dibisikkan Nabi kepadanya. Fatimah berkata, “Ayah memberitahuku bahwa ini adalah sakitnya yang terakhir, akupun menangis karena sedih. Sesaat kemudian ayah mengatakan bahwa aku adalah orang pertama yang akan menyusulnya, lalu akupun tersenyum karena gembira”. Sungguh sebuah percakapan yang mengharukan antara ayah dan anak.

Pada saat sakaratul maut, Nabi berusaha menahan rasa sakitnya dengan mengusap-usap wajahnya dengan air yang tersedia dalam mangkok di sampingnya sambil berkata Allahumma a’inni ‘ala sakaratil maut ..”Ya Allah bantulah aku dalam menghadapi sakitnya sakaratul maut”. Saat itu kepala beliau berada dalam pangkuan Aisyah isterinya tercinta. Aiyah mendengar Rasul berujar bal ar-rafiq al-’ala (Hanya Tuhanku yang Maha Tinggi dan Agung). Dengan terharu Aisyah berkata, “Engkau telah diberikan pilihan dan inilah pilihanmu, Demi Zat yang telah mengutusmu dengan kebenaran”. Sesaat kemudian Rasulpun menghadap sang Khalik dengan tenang dan diiringi oleh isteri dan anaknya tercinta serta puluhan sahabat yang menunggu di luar rumah.

Setelah Rasulullah Meninggal

Berita wafatnya Nabi dengan segera menyebar ke masyarakat. Kaum muslimin berduyun-duyun mendatangi rumah Rasulullah dengan perasaan sedih, bingung dan histeris. Bahkan ada yang tidak bisa menerima dan percaya bahwa Nabi sudah tiada, termasuk Umar bin Khattab. Dengan menghunus pedang, Umar mengancam akan membunuh siapa saja yang mengatakan Rasulullah sudah meninggal. Umar histeris sambil mengatakan bahwa Nabi tidak meninggal tetapi Nabi hanya pergi sebentar menemui Allah dan akan kembali kepada umatnya, seperti yang terjadi ketika Nabi Musa bin Imran yang pergi meninggalkan kaumnya dan kembali lagi setelah 40 hari. Lihatlah betapa dalam rasa cinta sahabat terhadap Nabi. Wafatnya Rasulullah bisa menghilangkan akal sehat seorang Umar yang terkenal tegas dan keras.

Sesaat kemudian Abu Bakar masuk dan membuka kain penutup wajah Nabi, mengecupnya lalu menangis tersedu-sedu. Abu Bakar berkata “Demi ayah dan ibuku, engkaulah yang terbaik dalam hidup dan matimu. Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, Allah tidak akan pernah menyakitimu”. Itulah ungkapan hati dari seorang penasehat, sahabat, mertua, dan sekaligus pengikut setia.

Abu Bakar kemudian keluar rumah dan meminta kaum muslimin yang hadir untuk duduk. Mereka pun menurutinya, kecuali Umar r.a. yang masih belum bisa mengendalikan emosinya. Abu Bakar meminta Umar untuk duduk, maka ia pun menurutinya. Lalu Abu Bakar berpidato, “Siapa saja yang menyembah Muhammad maka ketahuilah bahwa Muhammad telah tiada. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu hidup dan tidak akan pernah mati.” Kemudian ia membacakan ayat Al-Quran Surah Ali ‘Imran ayat 144 yang bunyinya: wama Muhammadun illa Rasulun qad khalat min qablihi ar-rusulu. Afa-in mata aw qutila inqalabtum ‘ala a’qabikum. Wa man yanqalibu ‘ala a’qibaihi falan yadhurru allaha syai-an wa sayajzi allahu asy-syakirina. Artinya: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berpaling ke belakang (murtad)?. Barangsiapa yang berbalik ke belakang maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Mendengar pidato Abu Bakar tersebut, kaum muslimin pun menangis sedih dan akhirnya mereka menyadari bahwa inilah kehendak Allah yang harus mereka terima.

Nabi meninggal pada usia 63 tahun dengan tidak meninggalkan harta benda berharga apapun. Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin hebat, tetapi hidupnya sangat sederhana. Hal ini semestinya menjadi contoh bagi pemimpin sekarang. Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan petunjuknya kepada kita semua.

KesimpulanKisah di atas menyajikan banyak pelajaran buat kita, di antaranya:

Sakit bukan alasan untuk meninggalkan shalat. Banyak di antara kaum muslimin yang selama usia sehatnya selalu rajin ke masjid mendirikan shalat, tetapi beberapa hari menjelang kematiannya secara total meninggalkan shalat. Sikap meninggalkan shalat semacam ini sangat disayangkan

Ketika Nabi SAW ditawarkan sebuah pilihan: kehidupan di dunia atau kehidupan di sisi Allah, Nabi SAW dengan tidak ragu-ragu memilih yang kedua. Inilah sikap muslim yang selalu dekat dengan Allah, dan inilah pula sikap yang benar (bukannya malah takut mati seperti umumnya manusia sekarang.)

Nabi SAW menunjukkan kasih sayang pada anak dan terus menjaga hubungan baik dengan anaknya. Orangtua harus meniru sikap Nabi menyayangi dan menghargai anak-anak, tidak hanya dengan berdiri menyambut kedatangan mereka tetapi juga dalam arti seluas-luasnya.

Keluarga Nabi seluruhnya hadir pada detik-detik Rasulullah menghembuskan nafas yang terakhir. Usahakan ini pulalah kondisi keluarga kita pada saat salah seorang dari anggota keluarga kita akan menjumpai Tuhannya. Anak jangan sampai tidak menemani orangtuanya yang sakaratul maut, walaupun harus meninggalkan pekerjaan yang nilainya berpuluh-puluh milyar sekalipun. Jadilah anak yang shaleh dengan berusaha hadir di samping orangtua saat sakaratul maut, jangan hanya mendengar dari jauh kabar kesakitan dan kematiannya.

Kita boleh bersedih dan menangis di saat orang dekat kita menghadapi sakaratul maut atau meninggal dunia. Tapi jagalah perasaan sedih tersebut, jangan sampai berlebih-lebihan seperti meratapi si mayat atau memukuli diri sendiri.

Seperti dicontohkan Nabi, hanya keluarga dekat sajalah yang menemani saat-saat terakhir anggota keluarga kita. Teman-teman, anggota masyarakat, tetangga cukup menunggu di luar. Tidak usah bergabung beramai-ramai menyaksikan orang yang sedang menjelang ajal.

Dalam menghadapi sakaratul maut mintalah agar disediakan air untuk mengusap wajah sambil membaca Allahumma a’inni ‘ala sakaratil maut. Mudah-mudahan Allah mengurangi sakitnya sakaratul maut.

Sekeras apapun kepribadian Anda, hendaklah Anda tunduk kepada kebenaran. Umar langsung menjadi “dingin” dan menerima berita kematian Rasulullah setelah mendengar ayat-ayat Al-Quran yang menegaskan adanya kematian bagi Rasul. Hati seorang mukmin seyogyanya lembut sekeras apapun watak dan perilakunya.

Contohlah kehidupan sederhana Rasulullah. Jangan terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia sehingga kita terjauh dari nilai-nilai hidup sederhana yang dicontohkan Rasulullah. Sukses tidak ditentukan oleh kemewahan duniawi, tapi oleh kedekatan seseorang dengan Allah SWT. (25/e)

Nabi ‘Isa Islam VS Nabi ‘Isa Kristian

Di dalam dunia ini ada dua jenis ‘Isa, iaitu:

(a) ‘Isa versi Islam
(b) ‘Isa versi Kristian

‘Isa versi Islam merupakan seorang manusia 100%. Baginda hanya merupakan seorang nabi. Baginda tidak dibunuh dan disalib. Al-Quran telah menjelaskan hal ini dengan nyata:

“Dan kerana ucapan mereka : ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, ‘Isa anak Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya…” ( Surah An-Nissa: 157)

‘Isa versi Kristian adalah manusia/tuhan Yesus yang telah mati dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Kitab Injil ada memberitakan hal ini:

“Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa ia telah mati….” (Yohanes 19:33)

“Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya. Dan Yusuf pun mengambil mayat itu….”(Matius 27:58-59)

Lantaran terdapat dua versi Nabi ‘Isa dalam dunia ini, maka umat Islam perlulah mengetahui siapakah yang akan hadir pada akhir zaman ini, sama ada ‘Isa versi Islam atau ‘Isa versi Kristian?

Soalan: Menurut Islam siapakah Nabi ‘Isa yang akan hadir di akhir zaman nanti?
Jawapan: Pertama sekali, kita perlu faham bahawa Al-Quran telah mengajar kita bahawa
1. Allah adalah Tuhan semesta alam (Surah Al-Fatihah, ayat 1)
2. Allah itu tunggal, bukannya tritunggal/triniti (Surah Al-Ikhlas, ayat 1)
3. Allah tidak beranak atau diperanakkan (Surah Al-Ikhlas, ayat 3)
4. Tiada satu pun yang menyerupai-Nya (Surah Al-Ikhlas, ayat 4)

Kedua, kita perlu memahami pengakuan Nabi ‘Isa di dalam Al-Qur’an bahawa baginda bukanlah Tuhan Allah:

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kam mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’. ‘Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau (ya Allah), tidaklah patut bagiku mengatakan sesuatu yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku katakan demikian, maka tentu Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku dan aku tiada mengetahui apa yang ada pada diri (Zat) Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui segala perkara yang ghaib.’” (Surah Al-Maidah: 116)

“Aku ['Isa Al-Masih] tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku, iaitu: Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu dan aku menjadi saksi atas mereka, selama aku hidup bersama mereka, Tatkala Engkau mewafatkanku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau menjadi saksi atas tiap-tiap sesuatu.” (Surah Al-Maidah: 117)

Jadi siapakah Nabi ‘Isa yang akan muncul di akhir zaman menurut Al-Quran dan Al-Hadis? Sudah tentu Nabi ‘Isa versi Islam, Rasul Allah, manusia 100% dan bukannya tuhan, kehadirannya adalah untuk membersihkan dirinya daripada dipertuhankan oleh orang-orang kafir. Inilah yang dimaksudkan dalam Al-Quran yang berbunyi:

“Ingatlah ketika Allah berkata: ‘Ya ‘Isa, sesungguhnya Aku mengangkat engkau dan meninggikan (derajat) engkau kepada-Ku dan menyucikan engkau dari orang-orang kafir dan menjadikan orang-orang yang mengikut engkau di atas dari mereka yang kafir, sampai hari kiamat….’” (sebahagian dari terjemahan Surah Ali-Imran:55)

Soalan: Adakah ayat ini menunjukkan orang Kristan sekarang ini di atas orang yang kafir kerana mereka adalah pengikut Nabi ‘Isa versi Kristian?

Jawapan: Sila perhatikan ganti nama Nabi ‘Isa ditulis dalam huruf kecil yang bermakna dia manusia. Dan perlu anda ketahui bahawa kaum Kristian tidak menulis terjemahan ayat itu hingga tamat bacaan kerana takut pendustaan mereka terbongkar. Akhir ayat itu menegaskan bahawa pada akhirnya Nabi ‘Isa dan sekalian manusia akan kembali kepada Allah , dan Allah-lah yang akan menjadi Hakim di Hari Kiamat. Hujung ayat itu berbunyi:

“‘…Kemudian tempat kembalimu hanyalah kepada-Ku, lalu Aku hukum antara kamu tentang apa-apa yang kamu perselisihkan.’”. (Surah Ali Imran :55)

Soalan: Sila jelaskan lebih lanjut mengenai persoalan Nabi ‘Isa versi Islam yang dinyatakan di dalam Surah Ali Imran?

Jawapan: Allah mengajar Nabi Muhammad dan umat manusia mengenai kejadian Nabi ‘Isa di dalam Surah Ali Imran yang berbunyi:

“Demikianlah Kami bacakan kepada engkau (ya Muhammad) beberapa ayat dan Kitab yang hakim (berisi hikmah)” (Surah Ali Imran: 58)

“Sesungguhnya umpama (kejadian) Isa disisi Allah, seperti (kejadian) Adam, Allah jadikan dia dari tanah, kemudian Allah berkata kepadanya: ‘Jadilah engkau’, maka jadilah ia”. (Surah Ali Imran: 59)

Soalan: Jadi itu bermakna hadis-hadis Nabi Muhammad dan syarahan ulama-ulama Islam adalah merujuk kepada Nabi ‘Isa versi Islam?

Jawapan: Benar, sudah tentulah ia merujuk kepada Nabi ‘Isa versi Islam

Soalan: Bagaimanakah dengan hujah-hujah kaum Kristian yang berlandaskan kitab Injil?

Jawapan: Kita tidak perlu khuatir dan menyusahkan fikiran kita dengan memikirkan hujah-hujah dari kitab Injil kerana kitab Injil telah dibuktikan korup, menyeleweng, hilang keaslian dan bercampur antara ayat yang haq dan ayat yang batil. Buktinya kaum Kristian tidak berpuas hati dengan hanya menyelewengkan kitab Injil dan cuba pula hendak menyelewengkan kitab suci Al-Quran. Contohnya dalam kes ayat 55, Surah Ali Imran tadi.

Kesimpulan: Al-Quran, Al-Hadis dan ijma’ ulama Islam tidak pernah bersetuju bahawa Nabi Isa yang diceritakan dalam al-Quran merupakan Yesus Kristus, tuhan orang Kristian. Perlakuan orang Kristian memalsukan ayat Al-Quran yang tersebut di atas untuk tujuan menghalalkan ajaran agama mereka ini tidak ubah seperti meletakkan tanda halal pada makanan yang tidak halal bagi umat Islam. Contohnya kejadian penggunaan enzim lemak khinzir di dalam produk Ajinomoto keluaran Indonesia. Di luar kulit mereka gunakan simbol Islam iaitu halal tetapi hakikatnya produk itu telah tercemar!

Firman Allah :

“Segolongan di antara orang-orang Ahli Kitab bercita-cita hendak menyesatkan kamu, dan tiadalah mereka menyesatkan (orang lain), hanya diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak menyedarinya.” (Surah Ali-Imran: 69)

MENGAPA NABI MUHAMMAD SAW PUNYA BANYAK ISTRI ?

Mengapa Nabi Muhammad (SAW) mempunyai banyak istri, siapa saja mereka dan bagaimana latar belakangnya?

• Ketika orang mendengar bahwa Nabi mempunyai banyak istri, orang-orang itu menyimpulkan tanpa banyak berpikir bahwa Nabi adalah seorang yang sensuous. Namun review singkat tentang pernikahan beliau dapat membuktikan hal yang sebaliknya. Beliau menikah untuk yang pertama kalinya pada usia 25 tahun. Istri beliau, Khadijah, berusia 15 tahun lebih tua dari beliau. Khadijah adalah satu-satunya istri Nabi hingga 25 tahun berikutnya, sampai Khadijah wafat.

• Nabi menikah dengan istri yang lainnya sesudah Khadijah wafat. Jadi jelas bahwa jika Nabi hanya mengejar hal-hal yang bersifat fisik, beliau tidak harus menunggu hingga berusia 50 tahun untuk menikah lagi. Beliau hidup dalam lingkungan dimana sesoerang yang mempunyai beberapa istri adalah hal yang wajar dan dapat diterima. Namun beliau tetap mendedikasikan dirinya untuk sat-satunya istri beliau selama 25 tahun. Ketika Khadijah wafat, Nabi berusia 65 tahun

• Pernikahan beliau sesudahnya adalah karena berbagai alasan. Beberapa pernikahan beliau dengan maksud untuk membantu para wanita yang suaminya meninggal membela keyakinannya. Maksud lainnya adalah untuk mempererat hubungan dengan para pengikut setianya, seperti Abu Bakar. Sebagian lagi untuk menjembati hubungan dengan berbagai suku yang memushi kaum muslim. Ketika beliau berhasil membangun hubungan persaudaraan melalui pernikahan beliau, kekerasan menurun, pertumpahan darah berkurang. Para penulis non muslim saat ini yang mendapat kesempatan untuk mempelajari kehidupan Nabi dari tangan-tangan pertama, menyimpulkan hal yang sama atas pernikahan plural beliau.

Siapa sajakah Istri Nabi Muhammad dan bagaimana latar belakang beliau masing-masing?

1. KHADIJAH. Beliau berusia 40 tahun ketika beliau melamar Nabi saat Nabi berusia 25 tahun. Sesudah 15 tahun pernikahanya kemudian beliau diangkat menjadi Nabi. Khadijah telah menikah 2 kali sebelum belia menikah dengan Nabi. Suami beliau yang pertama adalah Aby Haleh Al Tememy dan suami kedua beliau adalah Oteaq Almakzomy. Mereka berdua meninggal dunia. Khadijah wafat pada tahun 621, pada tahun yang sama dengan saat Nabi mi’raj, pada peristiwa Irsa dan Mi’raj.

2. SAWDA BINT ZAM’A. Suami pertama beliau adalah Al Sakran Ibn Omro Ibn Abed Shamz. Dia dia meninggal beberapa hari sesudah kepulanganya dari Ethiopia. Sawda berusia 65 tahun, miskin dan tidak ada seorangpun yang merawatnya. Ini mengapa kemudian Nabi menikahi beliau.

3. AISHA SIDDIQA. Seorang wanita bernama Kholeah Bint Hakeem menyarankan agar Nabi menikah dengan Aisyah putri Abu Bakar, untuk menjalin hubungan dekat dengan keluarga Abu Bakar. Pada waktu itu Aisyah sudah bertunangan dengan Jober Ibn Al Moteam Ibn Oday, dan Jober belum menjadi seorang muslim. Masyarakat Mekah tidak keberatan atas pernikahan Aisha karena meskipun beliau masih muda namun sudah cukup matang dalam memahami tanggang jawab pernikahan. Nabi Muhammad bertunangan dengan Aisha selama 2 tahun sebelum beliau menikahinya. Abu Bakar adalah pemimpin pertama sesudah wafatnya Nabi.

4. HAFSAH BINT U’MAR. Beliau adalah putrid dari Umar, kalifah yang kedua. Umar meminta Ustman untuk menikah dengan Hafsah. Ustman tidak bersedia karena istrinya baru saja meninggal dunia dasn Ustman tidak ingin menikah lagi. Umar kemudian menemui Abu Bakar, namun Abu Bakar juga tidak bersedia karena beliau mengetahui bahwa Nabi sedang mempertimbangkan untuk menikahi Hafsah. Umar kemudian menemui Nabi dan mengadukan bahwa Ustman dan Abu Bakar tidak bersedia menikahi putrinya. Nabi mengatakan kepada Umar bahwa putrinya akan menikah dan Ustman juga menikah lagi. Ustman menikah dengan putri Nabi, Umi Kulsum dan Hafsah menikah dengan Nabi. Hal ini membuat Ustman dan Umar berbahagia.

5. ZAYNAB BINT KHUZAYMA. Suaminya meninggal dalam Perang Uhud, meninggalkanya dalam keadaan miskin dan mempunyai beberapa orang anak. Zaynab sudah tua ketika menikah dengan Nabi. Beliau meninggal 3 bulan sesudah menikah dengan Nabi, pada tahun 625.

6. SALAMA BINT UMAYYA. Suaminya, Abud Allah Abud Al Assad Ibn Al Mogherah, wafat dan meninggalkannya dalam keadaan miskin dan banyak anak. Pada saat itu beliau berusia 65 tahun. Abu Bakar dan beberapa orang lainnya meminang beliau untuk menikah. Namun karena beliau sangat mencintai suaminya beliau tidak menerima pinangan-pinangn tersebut. Namun akhirnya beliau menerima pinangan Nabi untuk menikah dan merawat beliau dan anak-anaknya.

7. ZAYNAB BINT JAHSH. Beliau adalah putrid dari bibi Nabi Muhammad yang bernama Omameh Bint Abud Almutaleb. Nabi menjodohkan Zaynab dengan Zayed Ibn Hareathah Al Kalby. Pernikahan mereka tidak bertahan lama dan kemudian Nabi menerima wahyu dalam Al Quran yang menyatakan bahwa jika mereka bercerai maka Nabi harus menikah dengan Zaynab. (Surah 33:37).

8. JUWAYRIYA BINT AL-HARITH. Nama suami pertamanya adalah Masafeah Ibn Safuan. Nabi Muhammad ingin suku bangsa Juayreah (bani Al Mostalag) memeluk Islam. Juarreah menjadi tahanan perang setelah kaum muslimin memenangkan perang Al Mostalaq. Ayah Juayreah menemui Nabi dan menawarkan tebusan agar Juareyah dibebaskan. Nabi meminta ayahnya untuk memberikan pilihan kepada Juaeryah. Ketika Juayryah diberi pilihan, beliau memilih masuk Islam dan mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Kemudian Nabi menikah dengan Juaryah. Suku bani Al Mostalaq kemudian menerima Islam.

9. SAFIYYA BINT HUYAYY. Dia berasalah dari suku Bani Nadir dari keturunan Israel. Dia telah menikah dua kali sebelum menikah dengan Nabi. Suami pertamanya adalah Salam Ibn Moshkem dan suami keduanya adalah Kenanah Ibn Al Rabeeah.

10. UMMU HABIBA BINT SUFYAN. Suami pertamanya adalah Aubed Allah Jahish. Aubed adalah putra paman Nabi. Aubed meninggal di Ethiopia. Raja Ethiopia menjodohkan Ramelah dengan Nabi.

11. MAYAMUNA BINT AL-HARITH. Beliau berumur 26 tahun ketika menikah dengan Nabi. Suami pertamanya adalah Abu Rahma Ibn Abed Alzey. Ketika Nabi membuka Mekah pada tahun 630, Mayamuna menemui Nabi, menerima Islam dan melamar Nabi. Tindakannya ini membuat banyak orang Mekah menerima Islam danNabi Muhammad.

12. MARIA AL-QABTIYYA. Maria dikirim kepada Nabi oleh Raja Mesir sebagai pembantu. Maria mempunyai seorang putra dari Nabi yang bernama Ibrahim.

Kompilasi dari berbagai sumber. Boleh disebarluaskan untuk kepentingan da’wah. Boleh juga di-copy-paste dan di post di internet atau media apapun sepanjang tidak untuk tujuan komersial.

Jadi Saya ingatkan, jangan asal kawin (menikah). Jangan mentang-mentang ittiba’ Rasul terus punya banyak isteri. Lihatlah betapa mulia niat beliau dalam menikahi isteri-isteri beliau